Bondowoso(omahberita.com),-Pemkab Bondowoso berkolaborasi dengan Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (SPPB UI) untuk mengembangkan situs-situs Megalitikum menjadi wisata edukasi berbasis masyarakat. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, Gede Budiawan, program tersebut diharapkan dapat mempertemukan perspektif akademik dengan kebutuhan praktis dalam pengembangan pariwisata daerah.
"Harapan kami, situs megalitikum didorong untuk dipandang sebagai living heritage atau warisan budaya yang tetap hidup karena dipahami, diceritakan, dijaga, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,"kata dia.
Menurutnya, upaya tersebut akan dilakukan dengan melibatkan pemerintah daerah, komunitas, generasi muda, pegiat pariwisata, hingga pelaku UMKM. Keberhasilan pengembangan situs pun tidak hanya diukur dari meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan. Lebih dari itu, keberhasilan diharapkan terlihat dari tetap terlindunginya situs, hidupnya pengetahuan tentang warisan budaya, semakin berdayanya masyarakat, terbukanya ruang bagi generasi muda, serta hadirnya manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
"Dengan kerjasama ini situs-situs megalitikum di Bondowoso diharapkan tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga aset pengetahuan, identitas, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan bagi masa depan pariwisata daerah,"katanya.
Dr. Shobichatul Aminah, M.Si., Ketua tim peneliti Laboratorium T-SMART SPPB UI, mengatakan program itu difokuskan pada mengubah cara pandang dari sekadar objek wisata menjadi sebuah ekosistem wisata. Menurutnya, situs megalitikum tidak cukup hanya menjadi lokasi yang dikunjungi wisatawan untuk berfoto, kemudian ditinggalkan. Situs tersebut perlu dikembangkan menjadi ruang pengalaman dan pembelajaran yang melibatkan masyarakat sebagai aktor utama.
Dalam konsep tersebut, masyarakat ditempatkan sebagai subjek pelestarian sekaligus pengembangan wisata. Masyarakat didorong untuk mengenali potensi, mengelola sumber daya, mengambil keputusan, menciptakan inovasi, memperoleh manfaat ekonomi, serta menjaga keberlanjutan warisan budaya. Pendekatan itu kemudian dikembangkan melalui konsep Megalithic Community Empowerment Model. Model tersebut diawali dengan pemetaan berbagai potensi, mulai dari situs, cerita, tokoh masyarakat, tradisi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berada di sekitar situs.
"Keterlibatan generasi muda juga menjadi bagian penting dalam upaya pengembangan ini, generasi Z dan generasi Alpha harus dilibatkan untuk membangun narasi baru mengenai warisan budaya Bondowoso,"katanya.
Menurutnya, generasi muda dapat mengambil peran sebagai Young Heritage Ambassador dengan memanfaatkan berbagai platform dan teknologi digital. Peran itu antara lain melalui storytelling, fotografi, videografi, konten edukatif, digital mapping, hingga virtual tour. Mereka juga dapat mengambil peran sebagai young historian, content creator, maupun local guide yang menjadi penghubung antara warisan budaya dengan pola generasi baru dalam memperoleh pengetahuan.
Selain pelestarian, kegiatan tersebut menekankan pentingnya menghadirkan konsep edukasi dalam pengalaman wisata. Wisatawan diharapkan tidak lagi sekadar datang, melihat, berfoto, kemudian pulang, tetapi dapat memahami, mengalami, belajar, dan membawa pulang pengetahuan. Konsep itu dapat diwujudkan melalui storytelling, pemandu wisata, papan interpretasi, kode QR, hingga video edukasi yang menjelaskan sejarah dan nilai penting situs megalitikum.
"Pengembangan wisata juga diarahkan untuk memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat sekitar. Kehadiran wisatawan dapat membuka peluang bagi pemandu lokal, kuliner, suvenir, homestay, transportasi, serta berbagai produk dan jasa lainnya,"katanya. (*)

as a preferred source on Google
0 Komentar