UNEFF 2026 Pecahkan Rekor, 1.565 Film dari Lebih 100 Negara Berebut Penghargaan

UNEFF 2026 Pecahkan Rekor, 1.565 Film dari Lebih 100 Negara Berebut Penghargaan

Jember (Omahberita.com) - Unej Film Festival (UNEFF) 2026 diikuti 1.565 film dari lebih dari 100 negara. Festival yang menjadi bagian dari Dies Natalis ke-62 Universitas Jember (Unej) ini resmi menutup masa pengumpulan karya dengan partisipasi internasional yang meningkat tajam.

Ketua UNEFF 2026, Mohammad Ferdiansyah Salim, mengatakan, peserta festival film tahun ini mencapai rekor terbanyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ia menyatakan, perluasan publikasi dan kemudahan pendaftaran menjadi faktor meningkatnya jumlah peserta dari luar negeri.

Ketua UNEFF 2026, Mohammad Ferdiansyah Salim
Ketua UNEFF 2026, Mohammad Ferdiansyah Salim

“Pada tahun sebelumnya sudah ada beberapa film luar negeri yang masuk, seperti dari Malaysia, tetapi jumlahnya belum banyak. Tahun ini kami memperluas jangkauan submisi melalui platform digital FilmFreeway dan membuka kategori Film Fiksi Internasional. Kami jujur tidak menyangka peningkatannya sedrastis ini,"katanya.

Faktor pendukung lainnya, katanya, adalah pendaftaran di FilmFreeway yang sangat mudah serta UNEFF 2026 yang tidak memungut biaya submisi (free submission), sehingga pembuat film dari berbagai negara dapat berpartisipasi tanpa terkendala biaya,” jelas Ferdiansyah.

Berdasarkan asal negara, Indonesia menjadi penyumbang film terbanyak dengan 349 karya, disusul Iran sebanyak 301 film, Kemudian Brasil 101 film, dan India 87 film. Selain keempat negara tersebut, ratusan karya lainnya meluncur dari belahan benua Asia, Eropa, Amerika, hingga Afrika, menjadikan Jember sebagai titik temu persemaian sinema berskala global. Karya-karya dari berbagai negara itu turut memperluas jangkauan UNEFF sebagai festival film berskala internasional.

Seluruh karya yang terdaftar itu, kini menjalani seleksi administrasi dan kurasi untuk menentukan 10 film terbaik dari masing-masing enam kategori kompetisi. Sebanyak 60 film terpilih akan dinilai dewan juri untuk menentukan penerima penghargaan Best Film dan Jury Special Mention. Selain itu, 16 film pilihan akan diputar dalam program Layar Komunitas saat MainFest.

Sebelum memasuki acara puncak, UNEFF 2026 juga menggelar program Layar Tancap Desa di Balai Desa Balung Lor, Jember. Program ini menjadi upaya mendekatkan sinema kepada masyarakat di luar lingkungan kampus dan gedung bioskop.

Peserta menyaksikan pemutaran film sebagai bagian dari rangkaian kegiatan UNEFFenture School
Peserta menyaksikan pemutaran film sebagai bagian dari rangkaian kegiatan UNEFFenture School

Rangkaian pra-festival turut diisi UNEFFenture School di Gedung Soedjarwo Lantai 5 Universitas Jember, Selasa (13/10/2026). Kegiatan tersebut ditujukan bagi pelajar SMP, SMA, dan sederajat untuk mengenal dunia perfilman serta proses kreatif di balik layar.

Ferdiansyah menambahkan bahwa UNEFFenture School menjadi ruang apresiasi dan edukasi sejak dini.

“Program ini dirancang untuk memperkenalkan sinema kepada generasi muda, bukan hanya sebagai tontonan, melainkan juga sebagai ruang untuk belajar, mengapresiasi karya, dan mengenal proses kreatif di balik layar,” tegasnya.

Program Director UNEFF 2026, Tevy Al Farrel Sadubi Tjahyanto, juga memperkenalkan tema festival tahun ini, yakni Dissonance atau disonansi, yang mengangkat persoalan ketidakselarasan, perbedaan, dan pertentangan dalam cerita film maupun kehidupan sehari-hari.

Antusiasme peserta UNEFFenture School kian terpacu saat menyaksikan pemutaran tiga film pendek fiksi: Menjadi Maling dalam 11 Menit Bersama Bang Sat karya Reihan Dani, Sepiring Sunyi di Atas Meja karya Sandy Bima, serta Gadis dan Penatu karya Alam Alghifari.

Salah satu peserta, Yaya, mengaku tersentuh selama kegiatan berlangsung.

“Seru banget, apalagi ini pertama kalinya aku nonton film-film ini, terutama film kedua yang bikin terharu,” ungkapnya.

Kegiatan berlanjut dengan pembekalan materi departemen artistik yang dipandu oleh Muhkamad Rafi Assidiqi (Mas Rimba). Ia membekali peserta tentang alur kerja tim artistik, peran art director, hingga efisiensi properti.

“Harapannya, setelah mendapatkan materi ini, mereka bisa membuat film yang jauh lebih baik lagi,” ujar Mas Rimba di sela sesi diskusi interaktif.

Kehadiran UNEFFenture School menjadi wadah inkubasi yang memantik keberanian generasi muda untuk merangkai gagasan visual mereka sendiri. Pengetahuan dasar yang dipelajari para siswa hari ini diharapkan menjadi pijakan awal bagi lahirnya sineas-sineas muda potensial di masa mendatang.

Penutupan masa pengumpulan karya bukanlah garis akhir, melainkan awal hitungan mundur menuju puncak perayaan sinema di Jember. Ribuan cerita dari belahan dunia kini bersiap menempati panggungnya dalam rangkaian MainFest yang mempertemukan pembuat film dan penikmat sinema.(*)

Press Release 21336/DST/UN25.A3/HM/2026

Humas Universitas Jember

0 Komentar

1500 karakter tersisa
Belum ada Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement