Omah Berita Logo

AI Memudahkan Belajar, Tetapi Berisiko Bikin Siswa Malas Berpikir

ilustrasi: potret siswa sedang belajar (Sc: Pinterest)
ilustrasi: potret siswa sedang belajar (Sc: Pinterest)

Jember(Omahberita.com) – Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin umum di kalangan pelajar Indonesia. Teknologi ini dimanfaatkan untuk mencari informasi, merangkum bacaan, hingga membantu menyelesaikan tugas sekolah. Namun, tingginya penggunaan AI menjadi perhatian ketika kemampuan dasar siswa Indonesia masih belum memenuhi kompetensi minimum berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025.

Berdasarkan data yang diterima oleh tim Omahberita.com di laman BBC yang terbit pada 12 Oktober 2026, sebanyak 53% siswa berusia 15 tahun di Indonesia menggunakan chatbot AI untuk belajar. Angka tersebut melampaui rata-rata dari 91 negara yang diteliti, yakni 46%.

Di sisi lain, hasil PISA 2025 menunjukkan masih banyak siswa Indonesia yang belum mencapai level kompetensi minimum dalam membaca, matematika, dan sains. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana teknologi AI sebaiknya digunakan agar membantu proses belajar tanpa menggantikan kemampuan berpikir siswa.

Mayoritas Siswa Belum Mencapai Kompetensi Minimum

PISA merupakan program penilaian internasional yang diselenggarakan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Penilaian ini digunakan untuk mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam menerapkan pengetahuan membaca, matematika, dan sains pada berbagai situasi.

Dalam hasil PISA 2025 yang dikutip BBC News Indonesia, sebanyak 73% siswa Indonesia berada di bawah level 2 dalam kemampuan membaca. Pada bidang matematika, persentasenya mencapai 83%, sedangkan pada bidang sains sebesar 63%.

Level 2 merupakan ambang kompetensi dasar dalam penilaian PISA. Siswa yang belum mencapai tingkat tersebut belum secara konsisten menunjukkan kemampuan menerapkan pengetahuan dan keterampilan pada situasi yang dihadapi.

Angka tersebut bukan berarti siswa sama sekali tidak mampu membaca, berhitung, atau memahami sains. Namun, hasil itu menunjukkan masih adanya tantangan dalam membangun kemampuan dasar yang diperlukan untuk belajar dan menyelesaikan persoalan sehari-hari.

Peneliti pendidikan Dhitta Puti Sarasvati menyoroti bahwa kemampuan siswa Indonesia yang belum banyak berubah perlu menjadi perhatian. Penguatan keterampilan dasar dinilai penting sebelum siswa semakin jauh memanfaatkan teknologi untuk mendukung pembelajaran.

Penggunaan AI dalam kegiatan belajar dapat membantu siswa memperoleh penjelasan dan menemukan informasi dengan cepat. Namun, teknologi ini juga berisiko membuat siswa melewatkan proses memahami materi apabila hanya digunakan untuk mendapatkan jawaban secara instan.

Persoalan tersebut terlihat dari pengalaman Valerica, orang tua murid sekolah dasar swasta di Jakarta, ketika mendampingi anaknya, Lula, mengerjakan proyek sekolah.

Lula, siswa kelas 5 SD, mendapat tugas membuat majalah kesehatan sebanyak 10 halaman. Saat mencari informasi mengenai gejala GERD atau penyakit asam lambung melalui mesin pencarian, ia menemukan rangkuman yang dihasilkan AI dan bersiap menyalinnya.

Valerica kemudian mengingatkan anaknya agar memeriksa sumber asli di balik informasi tersebut. Ia juga menekankan pentingnya memastikan keakuratan informasi dan mencantumkan referensi dalam tugas sekolah.

Pengalaman itu menggambarkan pentingnya pendampingan dalam penggunaan AI sejak usia sekolah. Siswa perlu dibiasakan untuk tidak langsung menerima jawaban yang muncul, tetapi memeriksa sumber, memahami isi informasi, dan mengolahnya dengan pemikiran sendiri.

Peneliti dari Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), Anindito Aditomo, juga mengingatkan risiko penggunaan AI sebagai jalan pintas dalam pembelajaran. Menurutnya, siswa perlu terlebih dahulu membangun keterampilan berpikir kritis agar mampu menggunakan teknologi secara tepat.

AI dapat membantu mempercepat proses belajar bagi pengguna yang telah memiliki kemampuan berpikir kritis dan mampu mengatur proses belajarnya sendiri. Sebaliknya, jika seluruh proses berpikir diserahkan kepada mesin, siswa berisiko merasa telah memahami materi meskipun belum benar-benar menguasainya.

Cara penggunaan AI menunjukkan Hasil belajar

Laporan PISA yang dikutip BBC juga menunjukkan bahwa hubungan antara penggunaan AI dan prestasi siswa tidak bersifat sederhana. Dampaknya bergantung pada tujuan dan cara teknologi tersebut digunakan.

Siswa yang menggunakan AI untuk tugas tertentu, seperti merangkum bacaan, menyusun naskah, atau melakukan penelitian awal, tercatat memiliki skor lebih rendah dibandingkan siswa yang tidak menggunakan AI untuk tugas tersebut. Dalam perbandingan yang dilaporkan, selisih rata-ratanya sekitar 20 poin.

Sebaliknya, penggunaan AI untuk tujuan umum secara berkala, disertai kesempatan mempelajari keterampilan literasi AI di sekolah, berkaitan dengan skor sains yang sedikit lebih tinggi. Meski demikian, hubungan tersebut juga dipengaruhi oleh faktor lain, termasuk kondisi sosial ekonomi siswa.

Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan AI tidak otomatis meningkatkan atau menurunkan kemampuan belajar. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah teknologi digunakan untuk memperdalam pemahaman atau justru menggantikan proses berpikir yang seharusnya dilakukan siswa.

Karena itu, AI dapat dimanfaatkan untuk menguji pemahaman melalui kuis, mencari sudut pandang tambahan, atau membantu siswa menemukan pertanyaan yang perlu dipelajari lebih lanjut. Siswa tetap perlu memeriksa jawaban dan membangun kesimpulan berdasarkan pemahamannya sendiri.

Di Indonesia, pembelajaran coding dan AI telah mulai diperkenalkan sebagai bagian dari pengembangan kurikulum untuk sekolah yang siap menerapkannya. Namun, pengenalan teknologi tersebut perlu diimbangi dengan penguatan kemampuan membaca, matematika, sains, dan penalaran.

Anindito Aditomo berpendapat bahwa keterampilan dasar berpikir perlu dibangun terlebih dahulu agar siswa tidak bergantung pada AI saat mengerjakan tugas. Pembelajaran teknologi, menurutnya, perlu diarahkan untuk memperkuat kemampuan tersebut, bukan menggantikannya.

Dhitta Puti Sarasvati juga menekankan pentingnya kemampuan memeriksa informasi, membandingkan sumber, mengevaluasi bukti, dan menggunakan penalaran sebelum mempercayai suatu informasi.

Menurut data PISA yang dikutip dalam laporan tersebut, siswa Indonesia memiliki modal berupa rasa ingin tahu yang tinggi, yakni 80%, serta ketekunan sebesar 74%. Potensi tersebut perlu didukung lingkungan belajar yang mendorong siswa untuk bertanya, mengeksplorasi, mencoba, dan belajar dari kesalahan.

Dengan demikian, penggunaan AI dalam pendidikan perlu disertai pendampingan orang tua, kesiapan guru, kurikulum yang tepat, serta metode penilaian yang mendorong pemahaman. Teknologi seharusnya membantu siswa memperluas pengetahuan dan mempertajam penalaran, bukan menjadi pengganti proses belajar.

Tantangan pendidikan Indonesia bukan hanya mengikuti perkembangan AI, melainkan memastikan siswa memiliki keterampilan dasar yang cukup untuk menggunakannya secara bijak. Tanpa fondasi tersebut, kemudahan memperoleh jawaban belum tentu sejalan dengan peningkatan kemampuan memahami dan menyelesaikan persoalan.

BBC News

0 Komentar

1500 karakter tersisa
Belum ada Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement