Omah Berita Logo

Sejarah Ibu dan Anak Gunung Krakatau

Gunung Krakatau
Gunung Krakatau

Omah Berita (Jember) - Gunung Krakatau merupakan salah satu gunung api paling terkenal dalam sejarah Indonesia. Namanya tidak hanya dikenal karena letusannya yang sangat besar, tetapi juga karena perubahan dahsyat yang terjadi di kawasan Selat Sunda. Berada di antara Pulau Jawa dan Sumatra, Krakatau menjadi gunung api yang memiliki sejarah meledak dan meracau yang panjang hingga kini.

Kawasan Krakatau memiliki sejarah geologi yang panjang. Para ahli memperkirakan bahwa sebelum terbentuknya Krakatau yang dikenal pada abad ke-19, kawasan tersebut telah mengalami aktivitas vulkanik dan letusan besar pada masa lampau.

Salah satu peristiwa besar yang sering dibahas dalam kajian geologi adalah pembentukan kaldera besar sekitar abad ke-6. Smithsonian Global Volcanism Program mencatat bahwa kaldera tersebut memiliki lebar sekitar 7 kilometer dan kemudian menjadi tempat terbentuknya kompleks gunung api Krakatau.

Krakatau Sebelum Letusan 1883

Sebelum letusan besar pada 1883, Krakatau bukan hanya berupa satu kerucut gunung api. Kawasan tersebut terdiri atas beberapa bagian gunung api, termasuk Rakata, Danan, dan Perbuwatan. Ketiga bagian tersebut berkembang di kawasan kepulauan vulkanik yang berada di tengah Selat Sunda.

Krakatau kemudian mengalami peningkatan aktivitas pada tahun 1883. Letusan yang awalnya berupa aktivitas vulkanik biasa berkembang menjadi rangkaian erupsi besar. Kondisi tersebut menjadi awal dari salah satu bencana gunung api paling terkenal di dunia.

Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, letusan terbesar terjadi pada 26–27 Agustus 1883. Pada 27 Agustus, sekitar pukul 10.20 WIB, terjadi ledakan yang sangat besar. Suara ledakan dilaporkan terdengar hingga ribuan kilometer dari pusat letusan.

Letusan Dahsyat Krakatau 1883

Letusan Krakatau pada 1883 menjadi titik paling penting dalam sejarah gunung api tersebut. Erupsi yang terjadi bukan hanya menghancurkan sebagian besar tubuh gunung, tetapi juga menyebabkan terbentuknya kaldera besar di kawasan Selat Sunda.

Badan Geologi mencatat bahwa letusan Krakatau 1883 memiliki tingkat eksplosivitas VEI 6, yang menunjukkan besarnya skala letusan tersebut. Dampaknya dirasakan di berbagai wilayah, terutama di pesisir Banten dan Lampung.

Letusan tersebut juga menghasilkan awan panas, material vulkanik, abu, serta tsunami. Gelombang tsunami kemudian menerjang wilayah pesisir di sekitar Selat Sunda dan menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar. Data yang dikutip Kementerian ESDM menyebutkan lebih dari 36.000 orang meninggal akibat rangkaian letusan dan tsunami yang ditimbulkannya.

Besarnya letusan Krakatau bahkan membuat dampaknya tidak hanya dirasakan di sekitar gunung. Abu vulkanik tersebar ke atmosfer dan fenomena akibat letusan tercatat di berbagai wilayah. Kementerian ESDM menyebut energi letusan 26–27 Agustus 1883 diperkirakan setara dengan sekitar 30.000 kali energi bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.

Setelah rangkaian letusan tersebut berakhir, sebagian besar tubuh Krakatau runtuh dan membentuk kaldera. Tiga pulau besar yang tersisa dari kawasan Krakatau adalah Rakata, Sertung, dan Panjang. Di tengah kaldera inilah kemudian muncul gunung api baru yang dikenal sebagai Anak Krakatau.

Munculnya Anak Krakatau

Meski letusan besar telah menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau, aktivitas vulkanik di kawasan tersebut ternyata belum berakhir. Setelah beberapa dekade, aktivitas vulkanik kembali muncul di bagian tengah kaldera bekas letusan 1883.

Kementerian ESDM mencatat bahwa aktivitas erupsi pasca-letusan mulai terjadi pada 1927, ketika tubuh gunung api baru tersebut masih berada di bawah permukaan laut. Material vulkanik kemudian terus menumpuk hingga akhirnya tubuh gunung mulai terlihat di atas permukaan laut.

Kemunculan tersebut kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau. Dalam catatan Badan Geologi, tubuh Anak Krakatau muncul ke permukaan laut pada sekitar 1929–1930. Sejak saat itu, gunung api tersebut terus mengalami pertumbuhan akibat penumpukan material hasil erupsi.

Berbeda dengan Krakatau sebelum 1883 yang mengalami letusan sangat besar, Anak Krakatau berkembang secara bertahap. Erupsinya antara lain berupa lontaran material vulkanik dan aliran lava. Aktivitas tersebut membuat bentuk dan ketinggian Anak Krakatau terus berubah dari waktu ke waktu.

Anak Krakatau Terus Aktif

Sejak muncul ke permukaan, Anak Krakatau tidak benar-benar berhenti beraktivitas. Gunung api tersebut mengalami erupsi secara berkala dan menjadi salah satu gunung api aktif yang terus dipantau oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Kementerian ESDM menjelaskan bahwa karakter erupsi Anak Krakatau dapat berupa letusan eksplosif lemah atau Strombolian serta erupsi efusif berupa aliran lava. Aktivitas tersebut membuat Anak Krakatau terus membangun tubuhnya sendiri melalui penumpukan material vulkanik.

Dalam perkembangannya, aktivitas Anak Krakatau kembali menarik perhatian dunia pada 2018. Setelah mengalami aktivitas erupsi selama beberapa waktu, sebagian tubuh gunung mengalami longsoran ke laut pada 22 Desember 2018. Peristiwa tersebut kemudian memicu tsunami yang menerjang wilayah pesisir Banten dan Lampung.

Badan Geologi menjelaskan bahwa tsunami 2018 berkaitan dengan longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau ke laut setelah adanya aktivitas erupsi dan guncangan gempa. Peristiwa tersebut kembali menunjukkan bahwa bahaya di kawasan Krakatau tidak hanya berasal dari letusan, tetapi juga dapat berupa longsoran tubuh gunung api yang masuk ke laut.

Krakatau dan Perubahan Bentang Alam

Sejarah Krakatau menunjukkan bagaimana aktivitas gunung api dapat mengubah bentang alam dalam waktu yang relatif singkat. Letusan besar 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan membentuk kaldera bawah laut. Pulau-pulau yang tersisa kemudian menjadi bagian dari kawasan Krakatau saat ini.

Di tengah kaldera tersebut, Anak Krakatau kemudian tumbuh secara bertahap. Karena masih berada dalam fase membangun tubuh gunung, bentuk Anak Krakatau dapat berubah seiring aktivitas erupsi. Material baru yang keluar dari kawah dapat menambah luas maupun ketinggian tubuh gunung, sementara erupsi besar atau longsoran dapat kembali mengubah bentuknya.

Karena itu, Krakatau tidak dapat dipandang hanya sebagai satu gunung yang pernah meletus pada 1883. Krakatau merupakan sebuah kompleks vulkanik yang terus mengalami proses pembentukan dan perubahan.

Hingga sekarang, kawasan Krakatau masih menjadi salah satu kawasan gunung api yang mendapat perhatian khusus. Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda dan secara administratif termasuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Pengamatannya dilakukan melalui pos pengamatan gunung api di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Aktivitas Anak Krakatau juga masih berlangsung dalam beberapa periode. Terutama, Pada September 2026, Badan Geologi kembali melaporkan adanya fenomena erupsi menerus di Gunung Anak Krakatau. Hal tersebut menunjukkan bahwa gunung api ini masih aktif dan kondisinya tetap perlu dipantau secara berkala.

Sejarah panjang Krakatau pada akhirnya menjadi pengingat bahwa kawasan Selat Sunda merupakan wilayah dengan aktivitas vulkanik yang tinggi. Dari letusan dahsyat 1883, lahirnya Anak Krakatau, hingga berbagai aktivitas erupsi yang terjadi setelahnya, Krakatau terus menjadi bagian penting dalam sejarah kebencanaan dan ilmu kegunungapian di Indonesia.

Bagi masyarakat, memahami sejarah Krakatau bukan hanya soal mengetahui peristiwa masa lalu. Sejarah tersebut juga penting untuk memahami potensi bahaya gunung api dan bagaimana Indonesia menghindari bahaya aktivitas vulkaniknya yang meningkat.(*)

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement